Tagar #Justiceforaudrey Viral, Inilah Fakta-Fakta Dibalik Kasusnya

Baru- baru ini kita dikagetkan dengan berita yang sangat mengejutkan sekaligus hangat diperbincangkan yaitu penganiayaan yang menyerang seorang siswi SMP dengan 12 orang siswa SMA. Kasus yang viralnya berawal dari media sosial twitter dengan tagar #justiceforaudrey ini sangat menyedot perhatian publik terbukti dengan, para artis ibu kota hingga presiden RI Jokowidodo pun ikut turun tangan dalam menangani kasus ini. Namun beberapa persaksian dari pelaku maupun korban yang sebenarnya dari kasus penganiayaan ini, masih simpang siur dan masih dalam penyelidikan polisi atau pihak yang berwajib. Diawali dari saling sindir yang dilakukan korban hingga hasil visum yang tidak sesuai dengan persaksian korban, berikut 3 fakta dari kasus Audrey:
1. Berawal saling sindir di media sosial antara pelaku dan korban
Kapolresta Pontianak Kombes M Anwar Nasir mengungkapkan, kasus penganiayaan yang menimpa Audrey sebagai korban berawal dari kejadian saling sindir di media sosial dengan motif persoalan masalah asmara.

“kasus ini berawal karena korban dan pelaku saling sindir menyindir tentang pacar pelaku yang merupakan mantan pacar sepupu korban,” jelasnya dalam konferensi pers yang disiarkan langsung melalui media sosial Instagram. @kapolresta_ptk_ta, Rabu (10/4).

Selain itu pada konferensi pers pelaku mengungkapkan bahwa awalnya pelaku dan korban adalah teman satu perkumpulan, hingga suatu saat korban membuat ucapan yang menyakiti hati pelaku, “Masalah saya dengan Audrey menyangkut masalah almarhum bapak saya, terus membuat saya sakit hati. Dia juga mengikut campurkan urusan pribadi saya ini,” ujar pelaku

2. Kesaksian korban berbeda dengan hasil visum
Kombes M Anwar menjelaskan penganiayaan tersebut terjadi pada hari Jum’at (29/3) pukul 14.30 WIB. Awalnya korban dan pelaku bertemu di kawasan belakang Pavilion Informa dan dan Taman Akcaya, jalan Sulawesi, Pontianak. Sampai di lokasi, ada tiga pelaku EC, LL dan TR beserta remaja lainnya yang tidak dikenal korban, di lokasi itulah diduga penaniayaan terjadi.

Pada Jumat (5/4) ibu korban mengadukan kasus ini ke Polsek Pontianak, selanjutnya polisi melakukan penyidikan terhadap kasus ini, hingga pada Rabu (10/4) polisi menyampaikan hasil visum korban.
Hasil visum dipaparkan oleh Kapolresta Pontianak Kombes M Anwar Nasir dalam jumpa pers di Pontianak. Jumpa pers ini disiarkan lewat Instagram Live @kapolresta_ptk_kota.
Kombes M Anwar mengatakan, dari pengakuan korban, terduga pelaku sempat menekan alat kelamin korban. Berdasarkan hasil visum, tidak ada bekas luka di alat kelamin.
“Alat kelamin, selaput dara atau hymen, intact. Tidak tampak luka robek atau memar,” ucap Anwar. “Kulit tidak ada memar, lebam, maupun bekas luka,” tambahnya.
Pada konferensi pers ini menurut pengakuan pelaku, kejadian penganiayaan yang dilakukan pelaku terhadap korban bukan pengeroyokan melainkan duel atau perkelahian satu lawan satu. “Jadi kami tidak mengeroyok Aud. Kami berkelahi satu lawan satu,” ungkap salah satu pelaku.

3. Polresta Pontianak tetapkan tiga tersangka
Setelah penyidikan yang dilakukan Polresta Pontianak, Kalimantan Barat akhirnya ditetapkan tiga tersangka berinisial LL,TR dan EC yang merupakan siswi SMA. “Dari hasil pemeriksaan, akhirnya kami menetapkan tiga orang sebagai terangka, sementara lainnya sebagai saksi.”
Ungkap Kapolresta Kombes M Anwar Nasir dilasir dari antara.
Tersangka dijerat dengan ancaman Pasal 80 ayat 1 UU No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman tiga tahun enam bulan penjara.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *